<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Harian Metro</title>
	<atom:link href="http://harian-metro.net/category/travel/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://harian-metro.net</link>
	<description>Berita akurat tepat dan terpercaya</description>
	<lastBuildDate>Wed, 04 Jan 2012 06:06:34 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
		<item>
		<title>NEWS : Asyik, RI-Australia Sepakati MoU Visa Berlibur</title>
		<link>http://harian-metro.net/news-asyik-ri-australia-sepakati-mou-visa-berlibur_541.php</link>
		<comments>http://harian-metro.net/news-asyik-ri-australia-sepakati-mou-visa-berlibur_541.php#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 05 Mar 2009 04:19:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Wisata]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://harian-metro.net/news-asyik-ri-australia-sepakati-mou-visa-berlibur_541.php</guid>
		<description><![CDATA[JAKARTA, SELASA &#8212;&#160;Pemerintah RI dan Australia menandatangani perjanjian kerja sama (MoU) pemberlakuan visa berlibur dan bekerja bagi pelajar di kedua negara. &#8220;Kesempatan diberikan pada 100 pemuda kedua negara setiap tahunnya untuk dapat bekerja dan berlibur,&#8221; ujar Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Andi Mattalatta dalam konferensi pers di Depkumham, Jakarta, Selasa (3/3). Pemberlakuan visa juga [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="article_body">
<p><strong>JAKARTA, SELASA</strong> &mdash;&nbsp;Pemerintah RI dan Australia menandatangani perjanjian kerja sama (MoU) pemberlakuan visa berlibur dan bekerja bagi pelajar di kedua negara. &#8220;Kesempatan diberikan pada 100 pemuda kedua negara setiap tahunnya untuk dapat bekerja dan berlibur,&#8221; ujar Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Andi Mattalatta dalam konferensi pers di Depkumham, Jakarta, Selasa (3/3).</p>
<p> Pemberlakuan visa juga hanya bagi warga negara yang masih berstatus pelajar dengan usia 18-30 tahun dalam jangka waktu satu tahun. Andi menjelaskan, para pelajar harus memenuhi beberapa persyaratan, seperti memiliki kecakapan kedua bahasa negara tersebut, syarat kesehatan dan kepribadian yang baik, dan tak memiliki tanggungan anak.</p>
<p> &#8220;Pemberlakuan ini memberi kesempatan untuk melakukan perjalanan sambil mempelajari cara hidup, budaya, dan ekonomi negara tetangga. Keuntungannya, pelajar dapat bekerja untuk membiayai liburan itu,&#8221; ujarnya.</p>
<p> Sementara itu, menurut Menteri Imigrasi dan Kewarganegaraan Australia Senator Chris Evans, <a rel="nofollow" style="color:#67a50a;text-decoration:underline;border-bottom:solid 1px #67a50a;" id="pilih">Indonesia</a> adalah negara ketujuh yang sepakat memberlakukan visa fungsi ganda tersebut. &#8220;Jumlah penerima untuk tahun pertama sekitar 100 orang, tetapi ke depan jumlahnya akan dikaji ulang berdasar kebutuhan,&#8221; katanya.</div></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://harian-metro.net/news-asyik-ri-australia-sepakati-mou-visa-berlibur_541.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>PETUALANG : Titik Nol (152): Terpenjara</title>
		<link>http://harian-metro.net/petualang-titik-nol-152-terpenjara_538.php</link>
		<comments>http://harian-metro.net/petualang-titik-nol-152-terpenjara_538.php#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 05 Mar 2009 04:19:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Wisata]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://harian-metro.net/petualang-titik-nol-152-terpenjara_538.php</guid>
		<description><![CDATA[[Tayang:&#160; Senin - Jumat] &#160; Di kota Gilgit, ada dua kawan kita yang terkucil dalam penjara. &#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160; &#8220;Kasihan sekali,&#8221; kata Rajja Sadafar, seorang pegawai pemerintahan di kantor Deputy Commissioner, &#8220;mereka sendirian di sini. Tak ada yang mengunjungi. Tak ada kawan, tak ada keluarga.&#8221; Matanya berkaca-kaca ketika berkisah tentang dua gadis Indonesia yang terpenjara di Gilgit. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="article_body">
<div align="right"><span lang="IN" style="color:red;">[Tayang:&nbsp; Senin - Jumat]</span></div>
<p>&nbsp;</p>
<p>Di kota Gilgit, ada dua kawan kita yang terkucil dalam penjara.</p>
<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; &ldquo;Kasihan sekali,&rdquo; kata Rajja Sadafar, seorang pegawai pemerintahan di kantor Deputy Commissioner, &ldquo;mereka sendirian di sini. Tak ada yang mengunjungi. Tak ada kawan, tak ada keluarga.&rdquo; Matanya berkaca-kaca ketika berkisah tentang dua gadis <a rel="nofollow" style="color:#67a50a;text-decoration:underline;border-bottom:solid 1px #67a50a;" id="pilih">Indonesia</a> yang terpenjara di Gilgit.</p>
<p>Rajja, pria berusia empat puluhan ini, begitu senang bertemu saya yang kebetulan sedang memperpanjang visa di kantor DC.</p>
<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; &ldquo;Jarang ada orang <a rel="nofollow" style="color:#67a50a;text-decoration:underline;border-bottom:solid 1px #67a50a;" id="pilih">Indonesia</a> bisa sampai ke sini. Sebagai kawan senegara, kamu mesti menengok mereka. Bawalah buah, mereka pasti senang sekali.&rdquo; Rajja kemudian menulis dalam buku catatan saya, &lsquo;Maryam dan Christina&rsquo;, nama kedua gadis itu.</p>
<p>Di kota Gilgit, rumor bertebaran tentang kedua gadis misterius ini. Khalayak ramai seakan tahu segala-galanya tentang mereka. Kasusnya pernah merebak, menjadi buah bibir di kota. Maryam dan Christina ditangkap petugas perbatasan Pakistan ketika mencoba menyelundupkan empat kilogram heroin ke negeri Tiongkok, melalui perbatasan Karakoram Highway.</p>
<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; &ldquo;Mereka gadis lugu,&rdquo; kata Yaqub, pemilik penginapan yang katanya pernah diinapi oleh Maryam dan Christina sebelum ditangkap, &ldquo;masih sangat muda belia. Wajah mereka mungil dan tubuhnya pun kecil. Ada seorang pria Pakistan bersama mereka. Kasihan, gadis-gadis itu diperalat karena keluguannya.&rdquo;</p>
<p>Heroin itu konon disimpan di dasar tas ransel mereka. Petugas perbatasan curiga dengan ukuran tas ransel yang kelewat besar dibandingkan dengan ukuran tubuh mereka ini. Seorang di antara kedua gadis ini berhasil melenggang melewati kontrol bea cukai Pakistan, yang seingat saya dilakukan di lapangan terbuka di kota Sost. Seorang lainnya diminta membuka semua isi tasnya.</p>
<p>Sungguh sial. Di dalamnya ditemukan sebuah kotak yang terkunci gembok. Pemeriksaan bea cukai Pakistan di Sost biasanya sangat longgar, cuma menggaruk-garuk tas ransel turis secara acak. Tetapi kedua penyelundup ini tak berhasil melewati mata petugas Pakistan yang bisa membaca gerak-gerik, mana yang <em>backpacker</em> sungguhan, mana yang pura-pura. Mungkin karena baru pertama kali terlibat dalam bisnis ini mereka masih kikuk. Gerak tubuh mereka memancing curiga.</p>
<p>Sebenarnya mereka masih beruntung ditangkap di Pakistan daripada kalau ditangkap di China, yang punya perlengkapan canggih untuk mendeteksi segala jenis barang terlarang. Di negeri itu, hukumannya bukan lagi penjara, melainkan hukuman mati.</p>
<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; &ldquo;Tujuh tahun penjara,&rdquo; kata Yaqub, &ldquo;masih termasuk ringan untuk kasus ini. Sayang sekali. Sayang sekali. Mereka masih begitu muda dan lugu. Mereka punya mimpi setinggi langit. Tetapi sayang, mengapa mereka harus lewat jalan yang salah?&rdquo; Yaqub tak henti-hentinya menyesali sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.</p>
<p>Lain lagi ceritanya dengan Muhammad Kasim, pemuda Gilgit umur duapuluhan tahun yang pernah dipenjara 13 hari karena kasus perkelahian. Kasim mengaku pernah ketemu kedua gadis itu. Di penjara ada larangan untuk mengobrol tentang sejarah kejahatan masing-masing narapidana, jadi Kassim tidak tahu-menahu tentang mengapa kedua gadis itu ada di sana.</p>
<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; &ldquo;Yang jelas, Christina manis sekali. Saya bahkan pernah bilang &lsquo;I love you&rsquo; kepadanya,&rdquo; Kasim tertawa bangga.</p>
<p>Saya melangkah ke penjara distrik Gilgit dengan membawa sekilo jeruk di tentengan. Letaknya dekat bandara, tersembunyi di dalam gang yang berbelok-belok seperti benang kusut.</p>
<p>Penjara, bagi orang Pakistan, bukan kata yang bagus. Semua yang berhubungan dengan &lsquo;penjara&rsquo; sama jeleknya dengan narapidana. Perumahan di sekitar penjara, sipir, bahkan orang yang mengunjungi kerabat di penjara, semua dianggap sama dengan pelaku kejahatan. Orang di jalan yang semula ramah dan menawari saya meneguk secangkir teh, tiba-tiba langsung berubah raut mukanya begitu saya bertanya jalan menuju penjara. Jawabannya pun singkat dan seperlunya, &ldquo;di sana!&rdquo;</p>
<p>Setelah berputar-putar setengah jam, akhirnya saya sampai juga. Bentuknya mirip benteng bertembok tebal. Seorang penjaga menanyakan tujuan saya. &ldquo;Ingin bertemu dua orang <a rel="nofollow" style="color:#67a50a;text-decoration:underline;border-bottom:solid 1px #67a50a;" id="pilih">Indonesia</a> bernama Maryam dan Christina,&rdquo; saya menjawab dalam bahasa Urdu.</p>
<p>Penjaga itu segera berlari ke dalam untuk memanggil kedua gadis itu.</p>
<p>Saya menunggu di luar gerbang terali besi dengan penuh rasa cemas. Akankah Maryam dan Christina sudi bertemu saya? Satu menit, dua menit, lima menit, berlalu begitu saja.</p>
<p>Beberapa saat kemudian, polisi datang dengan seorang gadis mungil berkerudung. Wajahnya sangat <a rel="nofollow" style="color:#67a50a;text-decoration:underline;border-bottom:solid 1px #67a50a;" id="pilih">Indonesia</a>, sedikit bulat. Kulitnya sawo matang. Si gadis mengintip-intip ke arah gerbang sambil membungkuk-bungkukkan badannya, kemudian berteriak.</p>
<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; &ldquo;<em>No. I don&rsquo;t know him. I don&rsquo;t know! You go! Go</em>!&rdquo;</p>
<p>Saya terkejut. Itulah sapaan yang pertama kali saya terima dari sebuah pertemuan yang begitu lama dinantikan. Sebuah pertemuan dengan kawan yang terpenjara di sebuah sudut pegunungan tinggi ini.</p>
<p>Saya berbalik arah. Gontai.</p>
<p>Terdengar suara lembut dari balik gerbang. &ldquo;Mas, jangan pergi dulu!&rdquo;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>(<em>Bersambung</em>)</p>
<p>_______________<br />Ayo ngobrol langsung dengan Agustinus&nbsp; Wibowo di <a rel="nofollow" target="_blank" href="http://forum.kompas.com/travel/3559-everything-about-agustinus-wibowo-si-petualang.html">Kompas Forum</a>. Buruan registrasi!</div></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://harian-metro.net/petualang-titik-nol-152-terpenjara_538.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>TRAVEL STORY : Sepotong Senja di Boulevard</title>
		<link>http://harian-metro.net/travel-story-sepotong-senja-di-boulevard_536.php</link>
		<comments>http://harian-metro.net/travel-story-sepotong-senja-di-boulevard_536.php#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 05 Mar 2009 04:18:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Wisata]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://harian-metro.net/travel-story-sepotong-senja-di-boulevard_536.php</guid>
		<description><![CDATA[SEMILIR angin senja mengiringi matahari beranjak ke peraduannya. Beberapa orang duduk-duduk di pinggir pantai yang disebut Kawasan Boulevard. Biasanya selain wisatawan yang sengaja menunggu sunset, warga kota Manado juga sering menikmati senja di sekitar kawasan ini. Kawasan Boulevard ini termasuk salah satu ikon ibukota propinsi kota Manado yang menjadi pusat wisata kuliner pada malam hari. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="article_body">
<p><strong>SEMILIR</strong> angin senja mengiringi matahari beranjak ke peraduannya. Beberapa orang duduk-duduk di pinggir pantai yang disebut Kawasan Boulevard. Biasanya selain wisatawan yang sengaja menunggu sunset, warga kota Manado juga sering menikmati senja di sekitar kawasan ini.</p>
<p>Kawasan Boulevard ini termasuk salah satu ikon ibukota propinsi kota Manado yang menjadi pusat wisata kuliner pada malam hari. Kawasan ini sebelumnya banyak berjajar pedagang kaki lima, kafe pinggir jalan yang menjajakan aneka makanan khas Manado. </p>
<p>Mereka dulu berjualan makanan di gerobak-gerobak yang berjajar di sepanjang pantai, tetapi kawasan itu dirapikan dan mereka dipindahkan ke tempat lain karena akan dibangun mal.</p>
<p>Saat ini, sudah ada empat mal yang berdiri di kawasan itu seperti Manado Town Square (Mantos), Boulevard Mall, Bahu Mall dan Mega Mall. Di belakang Bahu Mall dan Mega Mall terdapat caf&eacute;, restoran dan rumah makan yang menyajikan aneka masakan Manado dan makanan lainnya seperti gado-gado, bakso, nasi goreng dan aneka seafood, dsb. Inilah tempat makan yang bisa dijadikan </p>
<p>Mal-mal tersebut berada di sepanjang jalan Pierre Tendean dan menjadi landmark kebanggaan karena merupakan jalan terlebar dan jalan pantai terpanjang (4,2 kilometer) di Manado. </p>
<p>Untuk menuju Kawasan Boulevard cukup mudah dijangkau dengan angkutan dalam kota maupun kendaraan pribadi. Letaknya pun strategis dan menjadi salah satu daya tarik baru kota Tinutuan ini, sehingga pusat kegiatan masyarakat Manado justru berpusat di mal-mal, hotel atau restoran di kawasan Boulevard ini. Sebelumnya aktivitas warga Manado terpusat di sekitar Monumen Taman Kesatuan Bangsa, tetapi saat ini lebih banyak terpusat di kawasan Boulevard. </p>
<p>Tetapi reklamasi pantai sepanjang 4,2 kilometer ini bukannya tak menimbulkan dampak. Menurut penduduk sekitar kawasan tersebut, sampah dari sepajang kawasan pantai ini akan mengikuti pola arus ombak ke arah Pulau Bunaken. Jadi ketika ombak besar sekitar bulan November-Januari, pantai Bunaken menjadi penuh sampah. Kondisi ini masih berlangsung hingga bulan Februari lalu dan penduduk Bunaken hanya bisa pasrah atas sampah kiriman dari lahan reklamasi itu.</p>
<p>Sedangkan pemerintah kota Manado melihat prospek pembangunan kawasan Boulevard dengan mereklamasi pantai untuk mendirikan mal-mal ini sebagai potensi wisata baru. Incarannya tentu pendapatan daerah melalui sektor pariwisata dapat lebih bertambah. </p>
<p>Apalagi wisata kuliner di kota Manado ini sangat beragam dan tentunya menjadi keunikan tersendiri bila dijadikan obyek wisata tersendiri di tengah kota. Masakan yang dihidangkan di area makan ini meliputi rusuk babi bakar, aneka sajian ikan bakar hasil tnagkapan nelayan, dan masih banyak lagi. Hampir semua restoran menyediakan hidangan khas Manado yang terkenal pedas tersebut. Tetapi di beberapa kedai juga terdapat sajian menu dari luar Manado seperti bakso, coto Makasar, seafood dan masih banyak lagi.</p>
<p>Beberapa kafe di kawasan ini pun menyediakan aneka makanan dan minuman khas seperti saraba. Minuman susu dicampur jahe dan rempah-rempah ini lezat disajikan saat hangat. Terutama bila musim penghujan, minuman khas Makasar ini memberi efek hangat pada tubuh. Hidangan yang pas untuk menyeruput saraba ini biasanya pisang goreng, tahu isi goreng, dan sebagainya.</p>
<p>Lokasi kawasan Boulevard yang berada di kota Manado ini memungkinkan pengunjung dapat menyambangi obyek wisata lain di kota Manado seperti Kuil Ban Hing Kiong, Museum Provinsi Sulawesi Utara, dan masih banyak lagi.</p>
<p>Wisatawan yang ingin menikmati semburat merah senja di pinggiran pantai Boulevard ini hari Sabtu, sebaiknya agak lebih sore datang ke daerah ini. Pasalnya, pengunjung terutama pemuda dan remaja dari Manado dan sekitarnya biasanya berkumpul di tempat ini untuk menghabiskan akhir pekan tiap Sabtu sore. </p>
<p>Kemacetan di sepanjang jalan Pierre Tendean pun tak terelakkan sepanjang Sabtu dan Minggu, karena hampir sebagian besar orang Manado ingin menghabiskan waktu di kawasan Boulevard.<br />Tetapi upaya untuk mencapai tempat ini dengan bermacet-macet sepertinya tidak akan sia-sia. Semburat merah dan violet berpadu di langit Boulevard senja itu. Sungguh sepotong senja terindah di Kota Tinotuan&hellip;</div></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://harian-metro.net/travel-story-sepotong-senja-di-boulevard_536.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>JALANSUTRA : Tiram Si Afrodisiak</title>
		<link>http://harian-metro.net/jalansutra-tiram-si-afrodisiak_534.php</link>
		<comments>http://harian-metro.net/jalansutra-tiram-si-afrodisiak_534.php#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 05 Mar 2009 04:18:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Wisata]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://harian-metro.net/jalansutra-tiram-si-afrodisiak_534.php</guid>
		<description><![CDATA[Sekali lagi William Wongso menjadi tuan rumah bagi pertemuan Komunitas Jalansutra. Kali ini tempatnya di &#8220;Oyster&#8221; sebuah resto anyar di Plaza Senayan. Tentu saja, sesuai dengan nama restorannya, pertemuan kami kali ini merupakan tutorial tentang tiram. Tiram atau oyster adalah salah satu seafood mahal yang tergolong eksotik. Pengenalan terhadap tiram setara dengan pengenalan terhadap wine. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="article_body">
<p>Sekali lagi William Wongso menjadi tuan rumah bagi pertemuan Komunitas Jalansutra. Kali ini tempatnya di &ldquo;Oyster&rdquo; sebuah resto anyar di Plaza Senayan. Tentu saja, sesuai dengan nama restorannya, pertemuan kami kali ini merupakan tutorial tentang tiram. Tiram atau oyster adalah salah satu seafood mahal yang tergolong eksotik. Pengenalan terhadap tiram setara dengan pengenalan terhadap wine. Sangat kompleks!<br />&nbsp;<br />Sekalipun merupakan negara kepulauan yang dikelilingi lautan, tiram ternyata bukan makanan sehari-hari rakyat kita. Oke, kita tahu saus tiram yang dipakai sebagai bumbu masak. Di Singkawang, Kalimantan Barat, juga populer dadar tiram yang menurut saya justru lebih dahsyat dibanding dadar tiram Hokian yang banyak dijajakan di Singapura dan Penang, Malaysia. Soalnya, di Singkawang tiramnya kecil dan lembut. Bila dadarnya setengah matang, <em>wuih &hellip; mak nyuss</em>! Kalau sedang kangen dengan makanan ini, saya biasa membeli tiramnya di sebuah toko di Jalan Pangeran Jayakarta yang spesial menjual berbagai bahan makanan dari Kalimantan Barat, lalu membuat dadar tiram di rumah.<br />&nbsp;<br />Di perairan Bali dan Lombok kini juga banyak dibudidayakan tiram untuk mutiara. Jenis tiram ini berbeda dengan tiram untuk konsumsi. Sekarang bahkan ada tiram air tawar yang dibudidayakan untuk dipanen mutiaranya.<br />&nbsp;<br />Tiram untuk konsumsi biasanya hidup di kawasan pantai laut. Di Amerika Serikat, berlaku ketentuan sangat ketat untuk memanen tiram konsumsi. Bila tingkat polusi di pantai kawasan itu tinggi, maka dikeluarkan larangan untuk memanen tiram. Ketika tinggal di Seattle, dari tempat duduk di sebuah restoran langganan saya, &ldquo;Ray&rsquo;s Boathouse&rdquo;, sering tampak warga keturunan Indian mencari tiram. Mereka juga sering menjualnya ke &ldquo;Ray&rsquo;s Boathouse&rdquo;, sehingga kami dapat pula mencicipi hasil tangkapan segar itu. Saya tidak tahu apakah tiram dari tempat itu kini masih boleh dikonsumsi. Pada saat itu saja, 15 tahun yang silam, sering sekali terjadi larangan memanen tiram di sana &ndash; khususnya pada bulan-bulan yang tidak mengandung &ldquo;r&rdquo; &ndash; yaitu Mei hingga Agustus.<br />&nbsp;<br />Insang tiram merupakan saringan (<em>filter</em>) terhadap jasad renik yang terdapat di air laut. Tiram hidup dari fitoplankton, dan berbagai bahan pencemar akan tetap tinggal di dalam insangnya. Itulah sebabnya: makan tiram dari laut yang tercemar berarti kita makan kumpulan bahan pencemar. Apalagi, sebagian besar tiram dikonsumsi dalam keadaan segar, alias mentah &ndash; tidak dimasak<br />&nbsp;<br />Karena sulit mendapatkan tiram yang sesuai untuk konsumsi &ndash; khususnya bagi para <em>aficionados</em> &ndash; maka hampir semua tiram yang tersedia di restoran-restoran <a rel="nofollow" style="color:#67a50a;text-decoration:underline;border-bottom:solid 1px #67a50a;" id="pilih">Indonesia</a> diimpor dari berbagai penjuru dunia. Tidak heran bila harga tiram sangat mahal. Selama ini, bila sedang ingin &ldquo;berpesta&rdquo; tiram, biasanya saya menunggu hari Minggu dan mengajak anak-cucu <em>brunch</em> di &ldquo;Il Mare&rdquo;, Hotel Mulia. Setiap hari Minggu di sana ada acara <em>buffet br</em>unch dengan tiram dan keju <em>all you can eat</em>.<br />&nbsp;<br />Kehadiran &ldquo;Oyster&rdquo; di Jakarta sejak beberapa bulan ini tentu saja disambut hangat oleh para penggemar tiram segar. Restoran ini secara reguler mendatangkan tiram segar dari berbagai penjuru dunia. Tiram harus diterbangkan dalam keadaan hidup, dan harus tetap hidup sampai beberapa saat sebelum disantap. Untungnya, tiram punya daya tahan yang baik untuk menempuh perjalanan panjang hingga ke meja makan para penggemarnya.<br />&nbsp;<br />Cangkangnya sangat keras, tajam, dan selalu tertutup rapat. Untuk membukanya dibutuhkan pisau khusus dan keahlian khusus. Menurut tradisi, tiram segar harus disajikan secara <em>on the half shell</em> &ndash; artinya, daging lembut tiram harus masih melekat pada sebelah cangkangnya yang cekung. Ada otot yang menempel pada cangkang dan harus disodok dulu sebelum menyantap dagingnya yang lembut.<br />&nbsp;<br />Tiram yang terbuka cangkangnya akan segera menutup bila disentuh. Bila tidak ada reaksi, artinya tiram sudah mati dan tidak layak lagi dikonsumsi. Bila tiram akan dikonsumsi dengan cara merebusnya terlebih dulu, tiram yang hidup akan membuka cangkangnya ketika direbus. Tiram yang tidak membuka berarti sudah mati dan harus disisihkan.<br />&nbsp;<br />Tiram segar memiliki aroma laut yang khas. Sama dengan para <em>aficionados</em> mengendus-endus aroma wine, para penggemar tiram pun selalu mengendus aroma tiram sebelum menyantapnya. Para penggemar tiram <em>hardcore</em> bahkan melahap tiram segar tanpa diberi bumbu apa-apa untuk dapat menikmati sepuas-puasnya keluguan, kepolosan, dan ketelanjangan tiram. Hmm, kenapa terdengar porno kalimat itu tadi, ya? Tetapi, secara umum, tiram segar dinikmati dengan sedikit perasan limau atau lemon, atau dengan cuka anggur dicampur dengan bawang merah cincang. Jangan pakai kecap manis, sambal, atau saus tomat!<br />&nbsp;<br />Di &ldquo;Oyster&rdquo;, William Wongso meramu sebuah menu khusus bagi kami untuk dapat menikmati tiram dalam berbagai sajian. <em>Appetizer</em>-nya terdiri dari empat macam sajian tiram. <em>Appetizer</em> pertama disebut <em>New Wave Makai</em>, disajikan dalam shot seperti yang biasa dipakai untuk minum <em>liquor</em>. Isinya: daging tiram segar, tomat cincang, sedikit rempah, dan sake (arak beras dari Jepang). Cara makannya pun seperti menenggak <em>liquor</em>. <em>Mak legendherrrr</em>! Mulus banget! Dengan sedikit &ldquo;tendangan&rdquo; sake yang sangat cantik.<br />&nbsp;<br /><em>Appetizer</em> kedua berupa tiga tiram segar dari berbagai penjuru dunia, yaitu: <em>Sydney Rock, Pacific</em>, dan <em>Wild Dutch Oyster</em>. Menurut William, cara yang terbaik adalah minum air berkarbonasi (<em>sparkling water</em>) untuk menetralisir rasa tiram sebelum mencicipi tiram jenis lain. Ini identik dengan makan <em>soda crackers</em> ketika melakukan <em>wine tasting</em> untuk menetralisir rasa wine sebelumnya. <br />&nbsp;<br />Dengan mencicipi ketiga jenis tiram itu, kami dapat membandingkan kekhasan masing-masing. Tetapi, yang paling mencolok perhatian kami adalah aromanya yang berbeda-beda. Tiram dari perairan yang lebih bersih memberi aroma yang lebih bersih pula.<br />&nbsp;<br /><em>Appetizer</em> ketiga adalah pastel goreng berisi tiram, keju <em>mozzarella</em>, dan jamur hitam. Sajian ini mengingatkan saya pada <em>tiapia</em> (kue tiram), hidangan khas orang Hokchia, yang di Jawa Timur dikenal dengan nama <em>ote-ote</em>. Dalam bahasa Inggris sajian ini disebut <em>oyster turnover</em>, disajikan dengan selada buah. Lho, mengapa tiram yang digoreng justru lebih amis aromanya? Ternyata, menurut William, pastel itu dibuat dari tiram beku &ndash; artinya tiram yang sudah mati. Tiram yang tidak segar memang cenderung menguarkan aroma yang lebih amis.<br />&nbsp;<br /><em>Appetizer </em>keempat juga tiram yang sudah dimasak. Tiram dicampur dengan daun ginseng cincang dan mayones, lalu dipanggang dalam cangkangnya. Cara menyajikan seperti ini umum dikenal dengan nama <em>gratin</em>. Rasanya gurih dengan aroma amis tiram yang khas.<br />&nbsp;<br />Karena masih punya &ldquo;sisa&rdquo; setengah lusin tiram <em>Belon</em> terbaik yang didatangkan dari daerah Britany di Prancis, William pun mengadakan undian di antara kami yang ber-23 malam itu &ndash; termasuk Vonny Roozen dan Jasmine, JS-ers dari Negeri Belanda. Hasilnya, lima orang beruntung memenangi undian. Lho, kan masih ada sisa satu? Rupanya, William sengaja menyisakan yang satu itu untuk Kepala Suku Jalansutra. Jadilah saya ikut menikmati sajian khusus itu. Rasanya memang benar-benar <em>mak nyuss</em>!<br />&nbsp;<br />Saya sudahi cerita sampai di sini, karena hidangan berikutnya tidak mengandung tiram. Supnya adalah <em>Consome Jubilee</em>, yaitu sup kaldu ayam kampung dengan hati angsa. Sup ini juga dikenal dengan nama <em>Consome a la Giscard d&rsquo;Estaing</em> bila ditambahi jamur <em>truffle</em> yang mahal. Hidangan utamanya adalah filet ikan <em>orange roughy</em> dari New Zealand. Dan ditutup dengan <em>Black Russian Pie</em> yang <em>crust</em>-nya dibuat dari coklat Valhrona.<br />&nbsp;<br />Benarkah tiram adalah makanan afrodisiak? Konon, Casanova menyantap dua lusin tiram mentah setiap hari untuk memuaskan tante-tante yang harus dihiburnya. Nah, karena pertanyaan ini sudah di luar wilayah kuliner, sebaiknya ditanyakan kepada Dokter Boyke saja, ya?</p>
<p>&nbsp;</p></div></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://harian-metro.net/jalansutra-tiram-si-afrodisiak_534.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>NEWS : Penangkis Lapar di Malam Hari</title>
		<link>http://harian-metro.net/news-penangkis-lapar-di-malam-hari_532.php</link>
		<comments>http://harian-metro.net/news-penangkis-lapar-di-malam-hari_532.php#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 05 Mar 2009 04:18:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Wisata]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://harian-metro.net/news-penangkis-lapar-di-malam-hari_532.php</guid>
		<description><![CDATA[JAKARTA, RABU - Masih dalam kaitan dengan pelayanan bertajuk 24 jam, restoran cepat saji McDonald&#8217;s memperkenalkan tripple cheersburger. Menurut penjelasan Rini Wardhani dari McDonald&#8217;s, pekan lalu, makanan unggulannya itu terdiri dari tiga lembar beef patties bulat berikut dua lembar keju. &#8220;Ini solusi kami kalau konsumen ada yang merasa kelaparan. Apalagi malam hari,&#8221; katanya. Selain itu, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="article_body">
<p><strong>JAKARTA, RABU -</strong> Masih dalam kaitan dengan pelayanan bertajuk 24 jam, restoran cepat saji McDonald&#8217;s memperkenalkan tripple cheersburger. Menurut penjelasan Rini Wardhani dari McDonald&#8217;s, pekan lalu, makanan unggulannya itu terdiri dari tiga lembar beef patties bulat berikut dua lembar keju. &#8220;Ini solusi kami kalau konsumen ada yang merasa kelaparan. Apalagi malam hari,&#8221; katanya.</p>
<p>Selain itu, terang Rini, pihaknya juga menawarkan dua es krim mcflurry. Yang pertama adalah mcflurry coffe crunch lengkap dengan potongan-potongan wafer plus serta taburan choco chips. Kedua, mcflurry caramel crunch. Pihaknya mengklaim, untuk yang satu ini, rasa karamelnya legit.</p></div></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://harian-metro.net/news-penangkis-lapar-di-malam-hari_532.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>PETUALANG : Titik Nol (153): Keresahan yang Terpendam</title>
		<link>http://harian-metro.net/petualang-titik-nol-153-keresahan-yang-terpendam_531.php</link>
		<comments>http://harian-metro.net/petualang-titik-nol-153-keresahan-yang-terpendam_531.php#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 05 Mar 2009 04:18:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Wisata]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://harian-metro.net/petualang-titik-nol-153-keresahan-yang-terpendam_531.php</guid>
		<description><![CDATA[[Tayang:&#160; Senin - Jumat] &#160; Di balik terali besi pintu gerbang penjara kota Gilgit, saya berjumpa dengan kedua gadis Indonesia yang terpenjara. Dua gadis itu bertubuh pendek. Berkaus lengan panjang dan mengenakan celana training. Warna kerudung mereka mencolok, menyembulkan rambut hitam di dahi. &#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160; &#8220;Mas dari Indonesia ya?&#8221; sapa gadis kedua yang baru datang. Suaranya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="article_body">
<div align="right"><span lang="IN" style="color:red;">[Tayang:&nbsp; Senin - Jumat]</span></div>
<p>&nbsp;</p>
<p>Di balik terali besi pintu gerbang penjara kota Gilgit, saya berjumpa dengan kedua gadis <a rel="nofollow" style="color:#67a50a;text-decoration:underline;border-bottom:solid 1px #67a50a;" id="pilih">Indonesia</a> yang terpenjara. Dua gadis itu bertubuh pendek. Berkaus lengan panjang dan mengenakan celana<em> training</em>. Warna kerudung mereka mencolok, menyembulkan rambut hitam di dahi.</p>
<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; &ldquo;Mas dari <a rel="nofollow" style="color:#67a50a;text-decoration:underline;border-bottom:solid 1px #67a50a;" id="pilih">Indonesia</a> ya?&rdquo; sapa gadis kedua yang baru datang. Suaranya lembut. Ramah sekali. &ldquo;Sendirian ke sini? Kenapa ke sini?&rdquo;</p>
<p>Saya bercerita tentang Rajja Sadafar dari kantor <em>District Commissioner</em> di Gilgit. Si gadis mengangguk-angguk, mengucapkan terima kasih.</p>
<p>Gadis yang satu lagi, yang semula berteriak-teriak mengusir saya, kini datang mendekat dan bergabung dalam percakapan. Tetapi, belum sempat kami bercakap-cakap banyak, dan masih cuma taraf basa-basi, tiba-tiba terdengar suara menggelegar.</p>
<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; &ldquo;<em>Jao!Tum jao</em>! Pergi! Pergi kamu!&rdquo; Seorang sipir berlari sambil membentak, membuat gerakan seperti mengusir ayam.</p>
<p>Tak pernah saya diperlakukan seperti ini selama berada di Pakistan, yang orang-orangnya ramah dan lembut.</p>
<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; &ldquo;<em>Jao</em>!&rdquo; teriaknya lagi. Kini sudah hampir menyeret saya menjauh. <br />Di kejauhan, Mariam dan Christina sayup-sayup memandang. Saya tak tahu apa yang mereka pikirkan.</p>
<p>Pertemuan ini sangat mengecewakan. Sudah sekian lama saya memimpikan untuk bertemu dengan kedua gadis ini. Sebenarnya saya sudah mendengar kisah mereka sejak dua bulan silam, dari gosip-gosip yang beredar di Gilgit. Adalah Rajja Sadafar yang membuat saya membulatkan tekad untuk bertemu dengan mereka.</p>
<p>Tetapi pertemuan ini malah membuat luka di hati. Wajah dua orang gadis yang tak berdaya di penjara terpencil Pakistan terus terngiang-ngiang. Tak berdaya, tak lagi menggantung mimpi. Mereka sendirian di dalam penjara yang hanya diisi narapidana lelaki, kebanyakan jago berkelahi. Konon masih ada seorang narapidana perempuan satu lagi, dari Karimabad, yang juga dipenjara di sini karena hubungan di luar nikah.</p>
<p>Memori saya juga selalu berkutat pada sipir penjara yang galaknya seperti menganggap saya juga tahanan. Keberingasannya membuat saya kapok untuk kembali berkunjung ke penjara itu.</p>
<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; &ldquo;Kamu kejam,&rdquo; kata Mirza, keesokan paginya. Mirza adalah seorang pemuda dari Chilas yang pernah dipenjara karena berkelahi, juga kenal dekat dengan Maryam dan Christina. &ldquo;Kamu hanya menyebar benih harapan dalam hati mereka, dan ketika mereka mulai menantikanmu, kamu meninggalkan mereka begitu saja!&rdquo;</p>
<p>Saya bercerita tentang sipir penjara yang tidak bersahabat. &ldquo;Mana ada sipir yang bersahabat?! Lagi pula siapa suruh kamu berbahasa Urdu? Kamu malah dicurigai sekongkolan penjahat, apalagi berasal dari negara yang sama dan sudah paham betul seluk-beluk Pakistan!&rdquo;</p>
<p>Mirza datang hendak membawa saya bersamanya menjenguk Maryam dan Christina. Ia sendiri baru berjumpa dengan kedua gadis itu di penjara pagi ini, dan dari mereka ia mendengar tentang kunjungan saya. &ldquo;Christina bilang kamu <em>good boy</em>, dan Maryam bilang, &lsquo;<em>he is a nice kid&rsquo;</em>&rdquo;.</p>
<p>Saya masih bergeming.</p>
<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; &ldquo;Tega sekali kamu&hellip;,&rdquo; lanjut Mirza, &ldquo;kamu sudah menabur secuil impian di tengah kesepian hidup mereka. Sekarang kamu pergi begitu saja? Kamu enak, tinggal naik bus, sudah pergi ratusan kilometer. Sedangkan mereka, terkurung di sini, di Gilgit yang terpencil, tak ada orang yang mau peduli.&rdquo;</p>
<p>Saya sudah membulatkan tekad untuk pergi ke Muzaffarabad hari ini, di mana setumpuk pekerjaan di daerah gempa sudah menunggu. Saya tidak bisa tinggal lebih lama lagi di kota ini.</p>
<p>Mirza sangat kecewa. Dia pergi setelah tak berhasil membujuk saya.</p>
<p>Bus malam meninggalkan Gilgit. Saya terguncang-guncang melintasi jalan gunung yang bergerunjal. Dalam kegelapan, &ldquo;<em>Kupu-kupu Malam</em>&rdquo; Ebiet G Ade mengalun merdu dari MP3 portabel, menaburkan rindu dan resah.</p>
<p><em>Setiap waktu engkau tersenyum <br />Sudut matamu memancarkan rasa <br />Keresahan yang terbenam <br />Kerinduan yang tertahan <br />Duka dalam yang tersembunyi <br />Jauh di lubuk hati</em></p>
<p>Bayang-bayang wajah tak berdaya Maryam dan Christina muncul lagi dalam benak. Omongan Mirza yang tajam dan langsung menohok, terus diputar ulang dalam pikiran. Mirza mungkin benar, saya memang kejam.</p>
<p>Di dalam kegelapan bus malam yang penuh sesak ini, pipi saya basah oleh air mata.</p>
<p>(<em>Bersambung</em>)</p>
<p>_______________<br />Ayo ngobrol langsung dengan Agustinus&nbsp; Wibowo di <a rel="nofollow" target="_blank" href="http://forum.kompas.com/travel/3559-everything-about-agustinus-wibowo-si-petualang.html">Kompas Forum</a>. Buruan registrasi!</div></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://harian-metro.net/petualang-titik-nol-153-keresahan-yang-terpendam_531.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>TRAVEL STORY : Pantai Pongkar: Tak Ada Nyiur, Cemara Pun Jadi</title>
		<link>http://harian-metro.net/travel-story-pantai-pongkar-tak-ada-nyiur-cemara-pun-jadi_530.php</link>
		<comments>http://harian-metro.net/travel-story-pantai-pongkar-tak-ada-nyiur-cemara-pun-jadi_530.php#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 05 Mar 2009 04:18:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Wisata]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://harian-metro.net/travel-story-pantai-pongkar-tak-ada-nyiur-cemara-pun-jadi_530.php</guid>
		<description><![CDATA[PANTAI dengan deretan nyiur pohon kelapa melambai? Ah&#8230; itu mungkin sudah biasa. Namun, pantai dengan jajaran pohon cemara di sepanjang pantai, ini mungkin jarang Anda temui dan ternyata juga tidak kalah cantiknya. Ya, itulah Pantai Pongkar.&#160;Kawasan wisata&#160;yang terletak di Kecamatan Tebing Tanjung Balai Karimun, ibu kota Kabupaten Karimun, Kepulauan Riau, ini adalah pantai unik dengan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="article_body">
<p><strong>PANTAI</strong> dengan deretan nyiur pohon kelapa melambai? Ah&#8230; itu mungkin sudah biasa. Namun, pantai dengan jajaran pohon cemara di sepanjang pantai, ini mungkin jarang Anda temui dan ternyata juga tidak kalah cantiknya. </p>
<p>Ya, itulah Pantai Pongkar.&nbsp;Kawasan wisata&nbsp;yang terletak di Kecamatan Tebing Tanjung Balai Karimun, ibu kota Kabupaten Karimun, Kepulauan Riau, ini adalah pantai unik dengan kombinasi butiran pasir putih yang bersih dan jajaran pohon cemara yang indah. </p>
<p>Pantai seluas sekitar 100 hektar itu berada di kawasan Pulau Karimun. Setiap pengunjung yang datang ke Karimun tidak mesti lagi menaiki kapal feri atau kapal pompong menuju lokasi. Pengunjung yang baru tiba di Tanjung Balai Karimun dapat langsung menuju lokasi melalui jalur darat dengan waktu tempuh kurang dari setengah jam. </p>
<p>Untuk mencapai lokasi ini, dari Bandara Hang Nadim di Jalan Hang Nadim, Batu Besar Batam, Kepulauan Riau, Anda dapat menggunakan kapal motor tujuan Batam-Karimun. Perjalanan menggunakan kapal dari Batam memakan waktu sekitar&nbsp;dua jam atau dapat juga menggunakan kapal motor dari Pelabuhan Sri Bintan Pura, Tanjung Pinang, Kepulauan Riau, dengan memilih tujuan Tanjung Pinang-Karimun dengan waktu tempuh sekitar 1 jam. </p>
<p>Perjalanan menuju Pantai Pongkar memakan waktu sekitar 20 menit dari pusat kota Tanjung Balai Karimun. Saat ini belum ada kendaraan umum untuk mencapai pantai tersebut, jadi perjalanan harus ditempuh dengan kendaraan pribadi ataupun ojek. Bisa juga menggunakan taksi tanpa argo yang banyak terdapat di sekitar lokasi pelabuhan atau dapat juga dengan menyewa mobil dengan biaya Rp 350.000-Rp 500.000 per hari ditambah dengan ongkos bensin.</p>
<p>Infrastruktur jalan menuju lokasi sudah tersedia dengan lebar badan jalan sekitar 6 meter sehingga bisa dilalui dengan dua lajur kendaraan roda empat atau enam. Kualitas jalannya terbilang sudah cukup bagus dan mulus. </p>
<p>Dari jarak 15 kilometer menuju lokasi, sekitar 3-5 kilometer jalannya tergolong bagus. Selebihnya, keadaannya terbilang masih rusak. Bukan hanya sekadar berlubang, melainkan banyak onggokan batu yang bertumpuk di tengah jalan sehingga perjalanan dari Tanjung Balai yang seharusnya bisa ditempuh dalam 20 menit menjadi 30 menit, bahkan 45&nbsp;menit.</p>
<p>Di Pantai Pongkar, pengunjung bukan hanya dapat menyaksikan keunikan pantai,&nbsp;melainkan&nbsp;juga dapat&nbsp;menikmati pemandangan gunung di sekitarnya. Gunung-gunung yang dari jauh tampak berwarna biru tua itu berada di sisi kiri dan kanan pantai sehingga pengunjung yang beristirahat di pantai tidak akan bosan karena terpuaskan dengan pamandangan yang indah.</p>
<p>Pantai Pongkar memiliki hamparan pantai yang luas dan alami dengan pohon cemara yang tersebar di sekitar wilayah pantai. Di sekitar lokasi juga terdapat danau kecil yang kaya akan ikan. Banyak pengunjung memanfaatkan danau tersebut untuk memancing. Di atas danau tersebut, didirikan sebuah panggung dengan arsitektur Melayu yang digunakan untuk beragam kegiatan kesenian. Biasanya, panggung ini juga digunakan untuk sejumlah kegiatan yang berlangsung saat malam pergantian tahun. &nbsp;</p>
<p>Pengunjung juga dapat memancing di laut atau sekitar kawasan pantai. Untuk memancing di laut, pengunjung dapat menyewa kapal atau pompong dari penduduk setempat. Kawasan pantai ini memiliki banyak ikan sehingga tidak perlu berlayar terlalu jauh ke tengah laut untuk memancing.&nbsp; Selain itu, tidak perlu menunggu terlalu lama untuk menunggu ikan hasil tangkapan. </p>
<p>Dalam hitungan menit, kail Anda akan terasa berat akibat tarikan ikan hasil memancing. Selain itu, pantai ini juga kaya akan biota laut, seperti terumbu karang, kerang, atau&nbsp;ikan. Karena itu, pengunjung juga dapat menyelam (<em>diving</em>) serta bercengkerama dengan kehidupan flora dan fauna bawah laut. </p>
<p>Bila bosan dan lelah menyelam, pengunjung bisa berjalan menyisir pantai dengan pasir putihnya sambil mencari kerang. Di sepanjang pantai juga terdapat bangku yang berjajar dan terbuat dari semen untuk beristirahat. Bangku ini terletak di bawah jajaran pohon cemara yang tersebar di setiap lokasi. Bangku ini sangat teduh sehingga pengunjung dapat duduk-duduk dan melepas lelah&nbsp;sambil menikmati terpaan angin pantai. Kawasan pantai ini juga biasa digunakan untuk bermain layang-layang karena anginnya yang sangat potensial. </p>
<p>Bila ingin makan, disarankan untuk membawa bekal masing-masing dari rumah karena sejumlah rumah makan di sekitar pantai hanya menjajakan makanan ringan, mi rebus, air kelapa, dan aneka <em>softdrink</em>. </p>
<p>Dari pantai Pongkar, pengunjung juga bisa melanjutkan perjalanan mengunjungi objek wisata air terjun Pongkar yang letaknya sekitar 2 kilometer ke arah tenggara atau sekitar 15 menit dari Pantai Pongkar. Menuju air terjun, pengunjung dapat menikmati keindahan alam dan hutan. Apalagi letak air terjun berada di sekitar 700 meter ketinggiannya.</p></div></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://harian-metro.net/travel-story-pantai-pongkar-tak-ada-nyiur-cemara-pun-jadi_530.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>NEWS : Wisata Kepulauan Banyak Kendala</title>
		<link>http://harian-metro.net/news-wisata-kepulauan-banyak-kendala_529.php</link>
		<comments>http://harian-metro.net/news-wisata-kepulauan-banyak-kendala_529.php#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 05 Mar 2009 04:18:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Wisata]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://harian-metro.net/news-wisata-kepulauan-banyak-kendala_529.php</guid>
		<description><![CDATA[]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://harian-metro.net/news-wisata-kepulauan-banyak-kendala_529.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pulau Kemaro Nan Melegenda</title>
		<link>http://harian-metro.net/travel-story-pulau-kemaro-nan-melegenda_406.php</link>
		<comments>http://harian-metro.net/travel-story-pulau-kemaro-nan-melegenda_406.php#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 17 Feb 2009 04:35:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Wisata]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://harian-metro.net/travel-story-pulau-kemaro-nan-melegenda_406.php</guid>
		<description><![CDATA[Di sini mereka menggantung mimpi, bersama deru mesin bus yang tanpa henti, asap knalpot hitam, selokan bau, debu beterbangan, dan tangisan bocah. Agustinus Wibowo, lahir dan besar di Lumajang, Jawa Timur. Saat ini berada di Afghanistan, di tengah misi keliling dunia melalui jalur darat. Agustinus Wibowo Peta Petualang Pir Wadhai adalah pembuluh nadi Pakistan, menyambungkan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Di sini mereka menggantung mimpi, bersama deru mesin bus yang tanpa henti, asap knalpot hitam, selokan bau, debu beterbangan, dan tangisan bocah.<br />
Agustinus Wibowo, lahir dan besar di Lumajang, Jawa Timur. Saat ini berada di Afghanistan, di tengah misi keliling dunia melalui jalur darat.</p>
<div style="margin-bottom: 5px; width: 298px;"><img src="http://harian-metro.net/wp-content/uploads/2009/02/0751106p.JPG" alt="" /></div>
<p><a title=" " rel="nofollow" href="http://harian-metro.net/wp-content/uploads/2009/02/0751106p.JPG" target="_blank"><img src="http://harian-metro.net/wp-content/uploads/2009/02/0751106t.JPG" border="0" alt="" hspace="2" width="70" height="52" /></a><a title=" " rel="nofollow" href="http://www.kompas.com/data/photo/2009/02/12/0752245p.JPG" target="_blank"><img src="http://harian-metro.net/wp-content/uploads/2009/02/0752245t.JPG" border="0" alt="" hspace="2" width="70" height="52" /></a><a title=" " rel="nofollow" href="http://www.kompas.com/data/photo/2009/02/12/0758225p.JPG" target="_blank"><img src="http://harian-metro.net/wp-content/uploads/2009/02/0758225t.JPG" border="0" alt="" hspace="2" width="70" height="52" /></a><a title=" " rel="nofollow" href="http://www.kompas.com/data/photo/2009/02/12/0759437p.jpg" target="_blank"><img src="http://harian-metro.net/wp-content/uploads/2009/02/0759437t.jpg" border="0" alt="" hspace="2" width="70" height="52" /></a></p>
<div style="margin-left:0px;margin-bottom:10px;padding:10px;border-bottom:#CCCCCC solid 1px;">
<div>
<div class="thumb"><img src="http://harian-metro.net/wp-content/uploads/2009/02/150116t.jpg" alt="" width="80" height="60" /></div>
<div class="judul" style="margin-bottom:5px;"><a rel="nofollow" href="http://travel.kompas.com/read/profile/authprof_343" target="_blank">Agustinus Wibowo</a></div>
<p><a rel="nofollow">Peta Petualang</a> Pir Wadhai adalah pembuluh nadi Pakistan, menyambungkan kota-kota di seluruh negeri dengan ibu kota Islamabad yang modern. Terletak di antara kota kembar Islamabad – Rawalpindi, stasiun bus Pir Wadhai adalah tempat interaksi antara saudagar, musafir, pedagang, sopir, kernet, tentara, dan pengungsi. Bermacam mimpi menuntun beragam manusia sampai ke tempat ini. Dan di tempat berdebu dan kumuh inilah tempat mereka menggantung mimpi.</div>
</div>
<div id="article_body">
<p>Bau busuk tercium dari jauh sebelum saya mencapai Pir Wadhai <em>chowk</em>, pertigaan penuh lobang jalan yang ironisnya malah menjadi tempat perhentian segala macam jenis bus antar kota yang berhenti di Rawalpindi. Menyengat, menusuk hidung, segala jenis sampah basah dan kering menyumbat selokan terbuka dengan air hitam yang tergenang. Debu dan asap hitam membungkus lingkungan manusia yang bertahan hidup. Ada orang makan di pinggir jalan, dikerubungi lalat beterbangan. Tempat ini adalah surga bagi serangga kotor itu, tetapi neraka bagi manusia yang tinggal di sana.</p>
<p>Perkampungan kumuh semburat tak beraturan di dekat terminal ramai. Warnanya semua sama – coklat kemerahan, warna bata yang tidak dicat, warna tanah lumpur yang membungkus bumi. Sedikit variasi warna yang ada adalah warna sampah kertas dan plastik yang berserakan di jalan gang. Ada gadis-gadis kecil sepuluhan tahun yang minum langsung dari pompa air komunal. Di perkampungan kumuh sebelah, yang ada cuma kemah kumuh bertebaran.</p>
<p>Siapa yang tinggal di sini? Mayoritas penduduknya adalah etnis Pathan, pendatang dari barat. Sebagian besar orang Pathan ini adalah pengungsi Afghanistan, negeri tempat pertumpahan darah masih berkecamuk. Sebagian sisanya berasal dari propinsi perbatasan N.W.F.P (<em>North-Western Frontier Province</em>), mengadu nasib bersama mimpi mereka akan kehidupan yang layak di ibu kota. Ada pula orang Punjab, Sindh, Baluchistan, Northern Areas, bahkan sampai Gurun Thar yang terpencil. Ada magnet yang menarik semua orang dari seluruh penjuru negeri hingga ke tempat ini.</p>
<p>Tetapi kue kemakmuran yang ditawarkan oleh Islamabad bukan untuk semua orang. Rumah-rumah mewah bak istana memang mengundang imajinasi tentang kehidupan kelas atas yang menghuni kota modern Islamabad. Namun kelas menengah yang menjadi penggerak ekonomi tidak terlalu kentara eksistensinya. Di sisi lain, warga miskin di Pakistan mendominasi pemandangan negeri ini, walaupun tak sampai miskin mutlak seperti di India di mana ratusan gelandangan tidur di jalanan kota tanpa alas dan ribuan pengemis dengan agresif memeluk kaki para pejalan dan menggandol tanpa putus asa sampai diberi uang receh. Jumlah penduduk miskin Pakistan sekitar 25-30% menurut laporan PBB, dan sekitar 20% penduduknya adalah pengangguran.</p>
<p>Bocah-bocah laki umur sepuluh hingga 12 tahun sibuk bekerja. Mereka mengaisi gunungan sampah, mencari barang ‘berharga’, dan langsung disimpan dalam karung butut di punggung. Lalat dan kuman adalah kawan akrab mereka. Jubah mereka dipenuhi bercak lumpur yang sudah lama menghitam. Bocah-bocah lainnya sibuk membantu orang tua mereka mengupas jagung tua, mengayak biji jagung dan menjemur. Yang lebih kecil lagi masih belum terlalu banyak berpikir tentang kerasnya hidup, menikmati hari dengan bermain melompati selokan bau atau menyeberang jembatan kayu di atas genangan sampah. Bocah umur tujuh tahun sudah mulai mengulum <em>naswar</em> – tembakau bubuk pengganti rokok. Inilah keseharian yang mereka di sini, karena mereka tak punya televisi untuk ditonton, buku untuk dibaca, atau video games untuk dimainkan.</p>
<p>Yang masih bayi bisa menjadi komoditi mencari uang. Pengemis wanita berkulit hitam duduk di pinggir jalan, bersiram asap knalpot hitam bus besar dari pagi hingga malam, bersama dengan bayi mungil di pelukan untuk mencari simpati orang yang melintas. Tetapi yang membuat saya takjub, jumlah pengemis di sini relatif sangat sedikit dibandingkan kemiskinan yang luas. Saya hanya melihat lima bocah pengemis dan tak sampai sepuluh pengemis perempuan berbungkus cadar tebal. Dibandingkan dengan angka kemiskinan yang begitu besar, apalagi dibandingkan dengan kelamnya wajah kemiskinan India, pengemis di Pakistan sangat kecil jumlahnya. Walaupun hidup susah, kebanyakan mereka masih berusaha hidup di atas kaki mereka sendiri.</p>
<p>Di sekitar genangan busuk, ada puluhan pedagang makanan, mulai dari daging kebab, gorengan, jeruk, pisang, nasi, rokok, korek api, baju, sampai ban mobil. Semuanya campur aduk jadi satu, dibungkus debu, asap, dan aroma busuk yang sama. “Makanlah ini,” kata Fariat, seorang pedagang <em>fruit chat</em> – salad buah-buahan khas Asia Selatan – sambil menyodorkan sepiring potongan buah disiram cairan putih. Saya sebenarnya tak tega memakannya, tetapi Fariat bersikeras. “<em>Aap hamare mehman hai</em>. Kamu adalah ‘tamu’-ku. Terimalah.” Fariat bahkan menolak pembayaran saya. Di sebelahnya adalah bocah penjual potongan daging sapi yang dimasak di atas wajan datar berdiameter satu meter. Di depannya adalah selokan berair hitam pekat. Lalat beterbangan. Adik si bocah mencuci piring dengan air kotor, di sebelah selokan. Di sini hal yang teramat biasa.</p>
<p>Banyak dinamika yang dialami oleh anak jalanan dari kampung kumuh ini. Pendidikan sekadar mimpi, jumlah orang buta huruf di Pakistan tak juga turun. Separasi gender sangat kental, orang Pathan jarang mengirim anak perempuannya bersekolah. Yang paling mencengangkan adalah laporan LSM perlindungan anak SACH tentang pelecehan seksual yang dialami anak-anak miskin Pir Wadhai.</p>
<p>Bocah laki-laki di bawah umur, dalam keterjepitan ekonomi, malah dimanfaatkan oleh pemilik hotel untuk menarik tamu, mulai dari penumpang bus, tentara, sampai pedagang sayur dan buah. Mereka didandani sedemikian rupa untuk merangsang libido para pria yang tak tersalurkan. Kasus perkosaan disembunyikan di bawah karpet, menjadi rahasia umum yang tabu untuk diperbincangkan. Beberapa bocah ini menerima pendapatan sepuluh hingga 15 Rupee saja untuk sekali ‘main’.</p>
<p>Sebagai seorang pria asing yang sendirian mewawancarai penduduk Pir Wadhai, saya sendiri sempat menjadi korban pelecehan macam ini. Saya diundang oleh seorang tentara untuk mengunjungi asramanya, sebuah rumah kecil dari bata yang kotor dan gelap di tengah perkampungan kumuh beraroma sampah. Ada sepuluh orang pria yang tidur di dalam kamar sempit itu, dibagi menjadi dua shift. Lima tentara yang tugas siang, tidur bersama di malam hari, dan lima yang tugas malam tidur di siang hari. Tak ada hiburan lain di sini, selain berbincang ditemani teh susu <em>dudhpati </em>yang dibawa bocah-bocah kecil. Ketika saya minta izin meninggalkan rumah ini, saya diantar oleh seorang serdadu yang sempat-sempatnya meremas bagian belakang saya, sambil berujar, “<em>Yih accha chiz hai</em>&#8230; Ini barang bagus!” Sempat terlompat karena terkejut, saya langsung lari meninggalkan tempat itu.</p>
<p>Pir Wadhai, perkampungan hiruk pikuk yang berpadu dengan terminal bus terbesar di belahan utara Pakistan, memang tidak selalu bersahabat. Beberapa penduduk melempari saya dengan batu dan kerikil ketika saya hendak mewawancara. Beberapa lagi mengusir dengan kata-kata kasar. Namun hati saya selalu bersama masyarakat kelas bawah Pakistan yang menggantung mimpi tinggi-tinggi dalam kepulan asap dan debu.</p></div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://harian-metro.net/travel-story-pulau-kemaro-nan-melegenda_406.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Titik Nol (140): Kota Modern</title>
		<link>http://harian-metro.net/titik-nol-140-kota-modern_398.php</link>
		<comments>http://harian-metro.net/titik-nol-140-kota-modern_398.php#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 17 Feb 2009 04:33:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Wisata]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://harian-metro.net/petualang-titik-nol-140-kota-modern_398.php</guid>
		<description><![CDATA[“Yang istimewa dari Islamabad adalah,” kata Syed Khalid Raza, pemuda Islamabad, “ibu kota ini terletak sepuluh kilometer jauhnya dari Pakistan.” Berada di Islamabad, kita seakan sudah bukan lagi berada di Pakistan. Lupakan hiruk pikuknya Rawalpindi, benteng dan masjid kuno Lahore, gang sempit yang meliuk-liuk di tengah bazaar Anarkali, atau kereta keledai yang hilir mudik di [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>“Yang istimewa dari Islamabad adalah,” kata Syed Khalid Raza, pemuda Islamabad, “ibu kota ini terletak sepuluh kilometer jauhnya dari Pakistan.”</p>
<p>Berada di Islamabad, kita seakan sudah bukan lagi berada di Pakistan. Lupakan hiruk pikuknya Rawalpindi, benteng dan masjid kuno Lahore, gang sempit yang meliuk-liuk di tengah bazaar Anarkali, atau kereta keledai yang hilir mudik di jalanan kota Pakistan. Di sini bukannya tempat jalan bolong-bolong dan genangan air hitam berbau busuk, bukan pula tempat asap hitam kendaraan bermotor mengotori udara. Selamat datang di sebuah kota masa depan Pakistan, di mana gedung tinggi menjulang sepanjang jalan raya yang mulus, lurus dan lebar, di mana mobil mewah berseliweran, dan rakyat Pakistan meletakkan kebanggaannya.</p>
<div id="loadarea" style="margin-bottom: 5px; width: 298px;"><img src="http://harian-metro.net/wp-content/uploads/2009/02/0738403p.JPG" alt="" /></div>
<p><a title=" " rel="nofollow" href="http://harian-metro.net/wp-content/uploads/2009/02/0738403p.JPG" target="_blank"><img src="http://harian-metro.net/wp-content/uploads/2009/02/0738403t.JPG" border="0" alt="" hspace="2" width="70" height="52" /></a><a title=" " rel="nofollow" href="http://www.kompas.com/data/photo/2009/02/16/0739236p.JPG" target="_blank"><img src="http://harian-metro.net/wp-content/uploads/2009/02/0739236t.JPG" border="0" alt="" hspace="2" width="70" height="52" /></a><a title=" " rel="nofollow" href="http://www.kompas.com/data/photo/2009/02/16/0740133p.JPG" target="_blank"><img src="http://harian-metro.net/wp-content/uploads/2009/02/0740133t.JPG" border="0" alt="" hspace="2" width="70" height="52" /></a><a title=" " rel="nofollow" href="http://www.kompas.com/data/photo/2009/02/16/0741068p.jpg" target="_blank"><img src="http://harian-metro.net/wp-content/uploads/2009/02/0741068t.jpg" border="0" alt="" hspace="2" width="70" height="52" /></a></p>
<div id="article_body">Sebelum tahun 1960, Islamabad bukan apa-apa. Ibu kota Pakistan sejak negeri ini terpisah dari India pada tahun 1947 adalah Karachi. Kota Karachi, jauh di ujung  propinsi Sindh di selatan, di tepi Laut Arab, dianggap kurang strategis letaknya. Presiden Ayub Khan kemudian memindahkan ibu kota ke Rawalpindi pada tahun 1958 lalu pindah lagi ke Islamabad dua tahun kemudian.Ibu kota ini sepuluh kilometer jauhnya dari Pakistan, demikian gurauan penghuni Islamabad. Walaupun jaraknya hanya beberapa kilometer dari Rawalpindi &#8211; kota terdekat dan dinyatakan sebagai <em>sister city</em> Islamabad, ibu kota ini sungguh merupakan dunia yang berbeda. Begitu memasuki perbatasan Islamabad, jalan berlubang dan macet khas Rawalpindi tinggal kenangan. Bangunan kuno berwarna bata merah coklat langsung berubah menjadi gedung tinggi dan rumah mewah bak istana. Zero Point Islamabad, ditandai dengan monumen bola dunia berukuran besar, menyambut kedatangan Anda di kota masa depan Pakistan.</p>
<p>Kota modern ini benar-benar dimulai dari nol. Arsitek dan ahli tata kota luar negeri didatangkan untuk melahirkan Islamabad. Hasilnya, sebuah kota berbentuk seperti buku kotak-kotak kalau dilihat dari udara, terbagi atas zona, sektor, dan blok, dengan jalan-jalan berkode angka dan huruf, penataan yang telah dihitung masak-masak secara ekonomis dan matematis. Terciptalah Kota Islam ini, modern, tapi bukan lagi Pakistan.</p>
<p>Jalanan Islamabad semua lurus, panjang sejauh mata memandang. Ruas-ruas jalan melintang sejajar dari timur ke barat, dari utara ke selatan, menghasilkan kotak-kotak sektor berukuran 2 x 2 kilometer. Keteraturan sektor ini mempunyai nama yang teratur pula, satu huruf dan satu angka, persis seperti indeks garis penunjuk di atas peta. Kotak-kotak horizontal mempunyai kode huruf yang sama, kotak vertikal punya kode angka yang sama.</p>
<p>Setiap sektor masih dibagi lagi menjadi empat sub-sektor, masing-masing berukuran 1 x 1 kilometer. Di titik pertemuan keempat sub-sektor ini adalah pusat sektor, disebut <em>markaz</em>, pusat komunal warga yang tinggal di sektor. Di <em>markaz</em> ada pasar, super market, toko elektronik, potong rambut, warung internet, toko buku, restoran, <em>gym</em>, dan seterusnya. Tak semua daerah diizinkan untuk mendirikan bangunan. Pohon hijau dan taman indah wajib ada di setiap sektor.</p>
<p>Alamat di Islamabad cukup dinyatakan dengan huruf dan angka, misalnya F-9/4 berarti berada di baris F kolom 9 sub-sektor 4. Susah mengingatnya? Orang biasanya mengingat nama sektor menurut landmark yang ada di <em>markaz</em>. Misalnya F-7 disebut Jinnah Supermarket, G-9 disebut Karachi Company, dan G-6 Melody Market.</p>
<p>Perancangan kota secara keseluruhan juga berorientasi jangka panjang. Pusat komersial diletakkan di antara sektof F dan G, sepanjang jalan lebar Blue Area atau Ali Jinnah Avenue. Gedung baru dan tinggi, dengan beragam arsitektur inovatif, berbaris rapi menawarkan mimpi masa depan Pakistan. Ada pula zona khusus kedutaan, disebut <em>Diplomatic Enclave</em>, tertutup bagi semua yang tak berkepentingan.</p>
<p>Tetapi justru saya merasakan kebosanan di kota yang serba teratur ini. Jalan lurus dan panjang, kosong dan sepi. Jalan raya terlalu lebar untuk mobil yang jarang-jarang melintas. Tak ada kemacetan ala Jakarta di sini, tetapi kekosongan jalanan ibu kota yang bahkan lebih kosong daripada jalan tol sungguh menebarkan nuansa yang tak biasa.</p>
<p>Dari sektor ke sektor, sungguh jauh saya harus berjalan. Lurus saja tanpa belokan sama sekali, melintasi taman-taman hijau yang selalu sama. Di balik rimbunnya pohon-pohon itu adalah kompleks perumahan mewah eksklusif kelas atas Pakistan. Di kota ini hidup para pejabat pemerintahan, menteri, pemimpin agama, pengusaha, artis, dan kalangan orang penting lainnya. Mereka hidup di balik tembok vila yang menjulang, dijaga lindungan satpam berseragam dan polisi yang berpatroli.</p>
<p>Tetapi tak semua yang tinggal di kota ini adalah warga kelas atas. Ada juga <em>slum</em> atau perkampungan kumuh di tengah sektor-sektor modern Islamabad. Selain orang Pathan, pengungsi Afghanistan, sekarang Islamabad juga dihuni oleh pengungsi gempa yang tinggal di perkemahan. Perkampungan kumuh Islamabad pun masih terbilang cukup teratur dan bersih bila dibandingkan dengan perumahan kelas bawah lainnya di Rawalpindi atau Lahore. Sungguh ada sesuatu yang hilang di sini – vibrasi kehidupan Pakistan yang dahsyat dan penuh hingar-bingar.</p>
<p>Bukan Islamabad – Kota Islam – namanya kalau tidak punya Masjid Faisal, salah satu masjid terbesar di muka bumi ini, mampu menampung hingga 300 ribu umat. Tak seperti kebanyakan masjid di Pakistan, di sini muslimah pun datang sembahyang. Masjid yang selesai dibangun tahun 1986 ini  arsitekturnya tak berkubah dan malah menjadi karakter khas kota modern ini. Yang menjadi penyandang dananya adalah Raja Faisal dari Saudi Arabia.</p>
<p>Hubungan Pakistan dan Saudi Arabia terlihat sangat mesra. Baru-baru ini Raja Abdullah berkunjung ke Islamabad, disambut besar-besaran dan di mana-mana tampak fotonya berukuran raksasa diapit gambar Presiden Musharraf dan Perdana Menteri Shauqat Aziz. Baliho besar bertajuk penghormatan pada ‘wali kedua Masjid Suci’ menghiasi sudut-sudut Islamabad. Gedung Saudi-Pak yang tinggi penuh dekorasi etnik juga menjadi kebanggaan ibu kota.</p>
<p>Namun tak semua bangunan modern di Islamabad menyimpan cerita indah. Reruntuhan Margala Tower, kondominium mewah di sektor F-10 yang ambrol digoyang gempa Kashmir 8 Oktober 2005 silam. Separuh bangunan ini masih berdiri, menjadi saksi tragedi yang menewaskan setidaknya 70.000 penduduk dan membuat tiga juta jiwa kehilangan tempat tinggal.</p>
<p>Saya berdiri terpekur di hadapan perumahan mewah yang kini menjadi puing-puing duka ini. Rasa bersalah menyelimuti diri saya, yang bercita-cita menjadi sukarelawan gempa namun malah masih di sini berpangku tangan.</p></div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://harian-metro.net/titik-nol-140-kota-modern_398.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

