EKONOMI : Shell Ingin Jadi Mitra Utama Blok Natuna
Mar 5th, 2009 | By admin | Category: KeuanganJAKARTA, KAMIS — Shell ingin menjadi mitra utama dalam pengembangan Blok Natuna D Alpha. Posisi itu menjadi salah satu syarat jika teknologi penyimpanan karbon dioksida (carbon captured storage /CCS) milik Shell dipakai untuk memproduksikan gas di blok itu.
Presdir Shell Indonesia Darwin Silalahi, Rabu (4/3) di Jakarta, menjelaskan, pada umumnya perusahaan migas multinasional bersedia mengerahkan teknologi dan sumber dayanya jika memiliki porsi kepemilikan lebih dari 15 persen. ”Kami siap terbuka dan membagi teknologi itu dengan perusahaan migas nasional, tapi tentu tidak untuk kompetitor,” ungkap Darwin.
Shell termasuk dalam delapan perusahaan multinasional yang memperebutkan posisi sebagai mitra Pertamina dalam mengembangkan Natuna D Alpha.
Perusahaan yang bermarkas di Belanda itu mengklaim mereka memiliki teknologi paling lengkap untuk mengelola gas Natuna. Salah satu tantangan utama pengembangan Natuna adalah kandungan CO yang mencapai 70 persen. Darwin memperkirakan, sekitar 60-70 persen belanja modal akan terserap untuk memisahkan CO dari gas alam.
Vice President CO Shell Downstream Services International Bill Spence mengatakan, saat ini Shell sedang mengembangkan tiga jenis teknologi separasi CO, yaitu cryocell, sapo membran, dan condensed contaminant centrifusal separation.
”Tiap teknologi bekerja efektif pada kondisi tertentu. Tapi, targetnya, teknologi yang dikembangkan bisa memberikan efisiensi sampai 35 persen. Artinya, lebih banyak gas yang bisa diproduksikan,” ujarnya.
Semua teknologi masih dalam tahap uji coba. Finalisasi kemungkinan penerapan teknologi itu bisa diterapkan dalam skala komersial, diperkirakan baru bisa ditetapkan tahun 2011.
Bill mengatakan, penanganan hidrokarbon dengan kandungan CO tinggi belum pernah ada di dunia. Proyek yang sedang berjalan saat ini maksimal memiliki kandungan gas 15 persen.
Selain teknologi, bonus aset milik perusahaan yang ditawarkan ke Pertamina juga menjadi pertimbangan. Namun, Darwin menolak berkomentar apakah aset yang ditawarkan ke Pertamina akan mencakup aset di hulu dan hilir.
Darwin mengatakan, waktu yang tepat bagi Natuna D Alpha berproduksi sebelum tahun 2016. Hal itu didasari pertimbangan bahwa pasar gas alam cair dunia akan mengalami kelebihan suplai di tahun itu, dengan masuknya sejumlah proyek gas besar.
Namun, dengan posisinya sebagai trader gas alam cair terbesar, Shell yakin Natuna bisa dikembangkan tanpa harus menunggu ada komitmen kontrak jangka panjang.
Dalam lawatan Wakil Presiden Jusuf Kalla ke Belanda, Februari 2009, kemungkinan Shell ikut dalam pengembangan Natuna, menjadi salah satu isu yang disampaikan Perdana Menteri Belanda.
