INTERNATIONAL : Ekonomi Jepang Anjlok
Feb 17th, 2009 | By admin | Category: Terbaru
|
|
AP photo/Katsumi Kasahara Pejalan kaki menunggu lampu pengatur penyeberangan di depan monitor yang memperlihatkan harga saham Jepang yang turun di Tokyo, Jepang, 12 Februari lalu. Pemerintah Jepang, Senin (16/2), mengakui, kondisi perekonomian Jepang terus mengalami kontraksi. |
Selasa, 17 Februari 2009 | 00:46 WIB
Tokyo, Senin – Perekonomian Jepang terus memburuk karena negara itu sangat bergantung pada ekspor. Penurunan yang dialami pada kuartal IV lalu bahkan tercepat dalam 35 tahun terakhir. Sejauh ini belum ada pertanda perekonomian Jepang akan membaik.
Produk domestik bruto Jepang minus hingga 3,3 persen pada kuartal IV dibandingkan dengan kuartal sebelumnya. Jika dibandingkan dengan tahun lalu, sudah turun 12,7 persen pada periode Oktober-Desember. Demikian disampaikan Pemerintah Jepang di Tokyo, Senin (16/2).
Penurunan tersebut merupakan yang terburuk sejak terjadinya kekacauan perekonomian akibat harga minyak melambung tinggi pada tahun 1974. Penurunan tersebut hampir tiga kali lipat dari kontraksi tahunan AS yang hanya sebesar 3,8 persen pada kuartal yang sama.
”Tidak dapat dimungkiri ini merupakan krisis ekonomi Jepang terburuk sejak akhir Perang Dunia II. Data-data menunjukkan, perekonomian Jepang yang sangat bergantung pada ekspor telah terkena dampak krisis,” ujar Menteri Perekonomian Kaoru Yosano.
Perekonomian Jepang yang merupakan nomor dua terbesar di dunia telah mengalami kontraksi selama tiga kuartal berturut-turut dan tampaknya masih akan terus terkontraksi.
”Tiga bulan ke depan juga akan menjadi kuartal yang menakutkan,” ujar Kyohei Morite, ekonom kepala pada Barclays Capital di Tokyo. Dia memperkirakan, PDB tahunan akan terkontraksi hingga 10 persen pada kuartal ke depan.
Sekretaris Kabinet Takeo Kawamura menyebutkan bahwa krisis ekonomi Jepang yang sedang terjadi sekarang ini merupakan gejolak yang terjadi satu kali dalam satu abad.
Para pejabat memberikan isyarat mereka akan meminta pemerintah untuk melakukan intervensi lagi sembari mendesak para anggota parlemen agar segera menyetujui tambahan anggaran sebesar 52,2 miliar dollar AS. Tambahan anggaran ini termasuk dana tunai untuk pembayar pajak.
Perusahaan-perusahaan raksasa Jepang, seperti Toyota Motor Corp dan Sony Corp, telah mengumumkan kebijakan pengurangan tenaga kerja dan memproyeksikan akan mengalami kerugian. Penguatan nilai tukar yen juga mengikis pendapatan ekspor.
Peran China
Sementara itu, China sangat prihatin atas nuansa proteksionisme yang tertuang dalam paket stimulus AS.
Di sisi lain, China akan mengirim tim dari sejumlah perusahaan negara itu dalam misi belanja ke Eropa tahun ini. Targetnya adalah membeli perlengkapan teknologi di Eropa.
”Misi pembelian ini direncanakan akan berangkat ke Jerman, Swiss, Spanyol, dan Inggris,” ujar juru bicara Kementerian Perdagangan China Yao Jian. Adapun nilai pembelian akan ditentukan oleh perusahaan dan asosiasi industri. (AP/AFP/joe)
